"" Ya Allah, Perbaikilah
untukku agamaku yang merupakan penjaga urusanku, perbaikilah untukku duniaku
yang merupakan tempat penghidupanku, perbaikilah akhiratku yang merupakan
tempat kembaliku, jadikan kehidupan ini sebagai tambahan untukku dalam
setiap kebaikan dan jadikan kematian itu sebagai (tempat) istirahat untukku
dari setiap kejelekan dan murka Mu ( Amin ya Allah ya Robbal Allamin) "
MIRAI -HE
( Menuju
Masa Depan )
Words
Indahnya KaruniaMu ya Allah, yang telah mempersatukan kami, menjalin tali kasih persaudaraan, dalam naungan "Kasih Cinta-Mu"
Archives
Songs/Lirycs
Mirai E
Hora ashimoto wo mite goran
Kore ga anata no ayumu michi
Hora mae wo mite goran
Are ga anata no mirai
Haha ga kureta ...
Takusan no yasashisa
Ai wo idaite ...
Ayumeto kurikaeshita
Ano toki wa mada osanakute imi nado shiranai ...
Sonna watashi no te wo nigiri
Isshoni ayundekita
Yume wa itsumo ...
Sora takaku aru kara
Todokanakute kowai ne dakedo oitsuzukeru no
Jibun no story ...
Dakara koso akirametakunai
Fuan ni naruto te wo nigiri
Isshoni ayundekita ...
Sono yasashisa wo
Soki ni wa iyagari
Hanareta haha e
Sunao ni narezu
Hora ashimoto wo mite goran
Kore ga anata no ayumu michi
Hora mae wo mite goran
Are ga anata no mirai
Sono yasashisa wo
Toki ni wa iyagari
Hanareta haha e
Suna o ni narezu
Hora ashimoto wo mite goran
Kore ga anata no ayumu michi
Hora mae wo mite goran
Are ga anata no mirai
Hora ashimoto wo mite goran
Kore ga anata no ayumu michi
Hora mae wo mite goran
Are ga anata no mirai
Mirai e mukatte ...
Yukkuri to aruite yukou
by : Kiroro
Towards The Future
Look! Look at your feet
This is the road you walk
Look! Look ahead of you
That is your future
My mother gave me so much kindness
Embrace love and walk," she said over and over
At that time I was still immature
I didn't understand her meaning
She held my hand
And walked with me
Our dreams are always high in the sky
It's scary that they might not come true
But we still continue to chase them
Because it's our story
We don't want to give up
When I was unsure she held my hand
And walked with me
There were times when I hated that kindness
When separated from my mother I couldn't be obedient
Look! Look at your feet
This is the road you walk
Look! Look ahead of you
That is your future
There were times when I hated that kindness
When separated from my mother I couldn't be obedient
Look! Look at your feet
This is the road you walk
Look! Look ahead of you
That is your future
Look! Look at your feet
This is the road you walk
Look! Look ahead of you
That is your future
Turn towards the future
Let's walk slowly
Puisi ku
Pelangi Kehidupan
Ku coba memahami arti warna pelangi
Begitu indah dalam pandangan
Adakah seindah jalan hidup yang ku impikan
Penuh pancaran warna secerah tiap warna biasmu.
Masih kuingin menyendiri
Merenungi arti kehidupan yang telah kujalani selama ini...
Dan langkah kehidupanku selanjutnya....?
by : AyundaLestari
UntukmuAdinda
Fajar memerah menyambut pagi
Halimun mengelilingi kawah gunung
Rona merah berpadu jingga
Samar menembus awan
Rangkaian do`a terukir dihati nan syahdu
Impian hamba yang mendamba cinta-Nya
Menyambut awal datangnya hari
Runduk dalam sujud penuh khikmad
Sentuhkan jiwa mengharap Kasih-Nya
Menengadahkan As-Syiir
Linangan air mata mengalir hangat tiada tertahan
Membasahi pipi menyentuh serambi jiwa
Menghempas keangkuhan
Di altar cinta-Nya ...
Yang terselubungi Nur diatas Nur
Terlintas wajah dalam bayangan
Raut wajah tertunduk penuh duka
Kepedihan menodai putihnya hari-hari
Dalam rintihan tangisan jiwa
Adindaku . . . . .
Air matamu masih membasahi kalbu
Begitupun air mataku
Tatkala hati bersimpuh dalam ribaan-Nya
Saat merintih karena cinta impian
Cinta yang tiada terwujud
Adindaku ....
Cinta hanyalah buaian mimpi
Cerita indah dalam dunia
Yang tiada pernah kan abadi
Mari bangkitlah wahai adinda
Tuntunlah jiwa menyambut hari-hari
Menyusun pilar ke Imanan
Yang tergoyah karena impian cinta
Kembali pada fitrah insani
Mengabdi hidup hanya pada-Nya
Mempersembahkan puspa cinta terindah
Penuh damba kehadirat-Nya
Adindaku sayang....
Basuh jemari tangan hingga jiwamu
penuh kearifan
Kuatkan hati menghadapi godaan dunia
Ingatlah pusaran waktu kan terus berputar
Menggiring manusia khilaf dalam khayalan
Sedang selalu ada
Kewajiban bagi insani
Mewujudkan cinta yang nyata
Penuh Keikhlasan dan kesadaran
Meraih Cinta-Nya penuh cahaya tiada batas
Menjadi puspita dalam taman hati
Penuh keikhlasan.
by : AyundaLestari
Wednesday, October 13, 2004
Ayunda menulis :
Marhaban ya Ramadhan
Selamat menjalankan ibadah Ramadhan
Mohon maaf
Lahir dan bhatin
Semoga Allah menerima amal ibadah kita semua
Amin Allahuma Amin
Berkali-kali aku memanggilnya,
Berkali-kali aku menyebutnya,
Berkali-kali
Berkali-kali
Muhammad,
Ya Muhammad,
Sang Kekasih
Rahasia Cinta
Ruh Kasih
(Emha Ainun Nadjib)
Sahabat, apa kabar semuanya? Mudah-mudahan engkau diberikan limpahan kasih sayang Nya yang tak berhingga. Aamiin. Saya ingin meminjam waktumu sebentar. Ada seseorang yang ingin bertutur kepada kita. Ada seseorang yang ingin mengisahkan selaksa kehidupan yang mungkin sering kita dengar. Beginilah lantunannya. Simak baik-baik ya… Mudah-mudahan bermanfaat.
Bismillah, Assalamu’alaikum….
Perkenalkan!
Namaku Bilal. Ayahku bernama Rabah, seorang budak dari Abesinia, oleh karena itu nama panjangku Bilal Bin Rabah. Aku tidak tahu mengapakah Ayah dan Ibuku sampai di sini, Makkah. Sebuah tempat yang hanya memiliki benderang matahari, hamparan sahara dan sedikit pepohonan. Aku seorang budak yang menjadi milik tuannya. Umayyah, biasa tuan saya itu dipanggil. Seorang bangsawan Quraisy, yang hanya peduli pada harta dan kefanaan. Setiap jeda, aku harus bersiap kapan saja dilontarkan perintah. Jika tidak, ada cambuk yang menanti akan mendera bagian tubuh manapun yang disukainya.
Setiap waktu adalah sama, semua hari juga serupa tak ada bedanya, yakni melayani majikan dengan sempurna. Hingga suatu hari aku mendengar seseorang menyebutkan nama Muhammad. Tadinya aku tak peduli, namun kabar yang ku dengar membuatku selalu memasang telinga baik-baik. Muhammad, mengajarkan agama baru yaitu menyembah Tuhan yang maha tunggal. Tidak ada tuhan yang lain. Aku tertarik dan akhirnya, aku bersyahadat diam-diam.
Namun, pada suatu hari majikanku mengetahuinya. Aku sudah tahu kelanjutannya. Mereka memancangku di atas pasir sahara yang membara. Matahari begitu terik, seakan belum cukup, sebuah batu besar menindih dada ini. Mereka mengira aku akan segera menyerah. Haus seketika berkunjung, ingin sekali minum. Aku memintanya pada salah seorang dari mereka, dan mereka membalasnya dengan lecutan cemeti berkali-kali. Setiap mereka memintaku mengingkari Muhammad, aku hanya berucap “Ahad... ahad”. Batu diatas dada mengurangi kemampuanku berbicara sempurna. Hingga suatu saat, seseorang menolongku, Abu Bakar menebusku dengan uang sebesar yang Umayyah minta. Aku pingsan, tak lagi tahu apa yang terjadi.
Segera setelah sadar, aku dipapah Abu Bakar menuju sebuah tempat tinggal Nabi Muhammad. Kakiku sakit tak terperi, badanku hampir tak bisa tegak. Ingin sekali rubuh, namun Abu Bakar terus membimbingku dengan sayang. Tentu saja aku tak ingin mengecewakannya. Aku harus terus melangkah menjumpai seseorang yang kemudian ku cinta sampai nafas terakhir terhembus dari raga. Aku tiba di depan rumahnya. Ada dua sosok disana. Yang pertama adalah Ali bin Abi Thalib sepupunya yang masih sangat muda dan yang di sampingnya adalah dia, Muhammad.
Muhammad, aku memandangnya lekat, tak ingin mata ini berpaling. Ku terpesona, jatuh cinta, dan merasakan nafas yang tertahan dipangkal tenggorokan. Wajahnya melebihi rembulan yang menggantung di angkasa pada malam-malam yang sering ku pandangi saat istirahat menjelang. Matanya jelita menatapku hangat. Badannya tidak terlalu tinggi tidak juga terlau pendek. Dia adalah seorang yang jika menoleh maka seluruh badannya juga. Dia menyenyumiku, dan aku semakin mematung, rasakan sebuah aliran sejuk sambangi semua pori-pori yang baru saja dijilati cemeti.
Dia bangkit, dan menyongsongku dengan kegembiraan yang nampak sempurna. Bahkan hampir tidak ku percaya, ada genangan air mata di pelupuk pandangannya. Ali, saat itu bertanya “Apakah orang ini menjahati engkau, hingga engkau menangis”. “Tidak, orang ini bukan penjahat, dia adalah seorang yang telah membuat langit bersuka cita”, demikian Muhammad menjawab. Dengan kedua tangannya, aku direngkuhnya, di peluk dan di dekapnya, lama. Aku tidak tahu harus berbuat apa, yang pasti saat itu aku merasa terbang melayang ringan menjauhi bumi. Belum pernah aku diperlakukan demikian istimewa.
Selanjutnya aku dijamu begitu ramah oleh semua penghuni rumah. Ku duduk di sebelah Muhammad, dan karena demikian dekat, ku mampu menghirup wewangi yang harumnya melebihi aroma kesturi dari tegap raganya. Dan ketika tangan Nabi menyentuh tangan ini begitu mesra, aku merasakan semua derita yang mendera sebelum ini seketika terkubur di kedalaman sahara. Sejak saat itu, aku menjadi sahabat Muhammad.
Kau tidak akan pernah tahu, betapa aku sangat beruntung menjadi salah seorang sahabatnya. Itu ku syukuri setiap detik yang menari tak henti. Aku Bilal, yang kini telah merdeka, tak perlu lagi harus berdiri sedangkan tuannya duduk, karena aku sudah berada di sebuah keakraban yang mempesona. Aku, Bilal budak hitam yang terbebas, mereguk setiap waktu dengan limpahan kasih sayang Al-Musthafa. Tak akan ada yang ku inginkan selain hal ini.
Oh iya, aku ingin mengisahkan sebuah pengalaman yang paling membuatku berharga dan mulia. Inginkah kalian mendengarnya?
Di Yathrib, mesjid, tempat kami, umat Rasulullah beribadah telah berdiri. Bangunan ini dibangun dengan bahan-bahan sederhana. Sepanjang hari, kami semua bekerja keras membangunnya dengan cinta, hingga kami tidak pernah merasakan lelah. Nabi memuji hasil kerja kami, senyumannya selalu mengembang menjumpai kami. Ia begitu bahagia, hingga selalu menepuk setiap pundak kami sebagai tanda bahwa ia begitu berterima kasih. Tentu saja kami melambung.
Kami semua berkumpul, meski mesjid telah selesai dibangun, namun terasa masih ada yang kurang. Ali mengatakan bahwa mesjid membutuhkan penyeru agar semua muslim dapat mengetahui waktu shalat telah menjelang. Dalam beberapa saat kami terdiam dan berpandangan. Kemudian beberapa sahabat membicarakan cara terbaik untuk memanggil orang-orang.
“Kita dapat menarik bendera” seseorang memberikan pilihan.
“Bendera tidak menghasilkan suara, tidak bisa memanggil mereka”
“Bagaimana jika sebuah genta?”
“Bukankah itu kebiasaan orang Nasrani”
“Jika terompet tanduk?”
“Itu yang digunakan orang Yahudi, bukan?”
Semua yang hadir di sana kembali terdiam, tak ada yang merasa puas dengan pilihan-pilihan yang dibicarakan. Ku lihat Nabi termenung, tak pernah ku saksikan beliau begitu muram. Biasanya wajah itu seperti matahari di setiap waktu, bersinar terang. Sampai suatu ketika, adalah Abdullah Bin Zaid dari kaum Anshar, mendekati Nabi dengan malu-malu. Aku bergeser memberikan tempat kepadanya, karena ku tahu ia ingin menyampaikan sesuatu kepada Nabi secara langsung.
“Wahai, utusan Allah” suaranya perlahan terdengar. Mesjid hening, semua mata beralih pada satu titik. Kami memberikan kepadanya kesempatan untuk berbicara.
“Aku bermimpi, dalam mimpi itu ku dengar suara manusia memanggil kami untuk berdoa...” lanjutnya pasti. Dan saat itu, mendung di wajah Rasulullah perlahan memudar berganti wajah manis berseri-seri. “Mimpimu berasal dari Allah, kita seru manusia untuk mendirikan shalat dengan suara manusia juga….”. Begitu nabi bertutur.
Kami semua sepakat, tapi kemudian kami bertanya-tanya, suara manusia seperti apa, lelakikah?, anak-anak?, suara lembut?, keras? atau melengking? Aku juga sibuk memikirkannya. Sampai kurasakan sesuatu diatas bahuku, ada tangan Al-Musthafa di sana. “Suara mu Bilal” ucap Nabi pasti. Nafasku seperti terhenti.
Kau tidak akan pernah tahu, saat itu aku langsung ingin beranjak menghindarinya, apalagi semua wajah-wajah teduh di dalam mesjid memandangku sepenuh cinta. “Subhanallah, saudaraku, betapa bangganya kau mempunyai sesuatu untuk kau persembahkan kepada Islam” ku dengar suara Zaid dari belakang. Aku semakin tertunduk dan merasakan sesuatu bergemuruh di dalam dada. “Suaramu paling bagus duhai hamba Allah, gunakanlah” perintah nabi kembali terdengar. Pujian itu terdengar tulus. Dan dengan memberanikan diri, ku angkat wajah ini menatap Nabi. Allah, ada senyuman rembulannya untukku. Aku mengangguk.
Akhirnya, kami semua keluar dari mesjid. Nabi berjalan paling depan, dan bagai anak kecil aku mengikutinya. “Naiklah ke sana, dan panggillah mereka di ketinggian itu” Nabi mengarahkan telunjuknya ke sebuah atap rumah kepunyaan wanita dari Banu’n Najjar, dekat mesjid. Dengan semangat, ku naiki atap itu, namun sayang kepalaku kosong, aku tidak tahu panggilan seperti apa yang harus ku kumandangkan. Aku terdiam lama.
Di bawah, ku lihat wajah-wajah menengadah. Wajah-wajah yang memberiku semangat, menelusupkan banyak harapan. Mereka memandangku, mengharapkan sesuatu keluar dari bibir ini. Berada diketinggian sering memusingkan kepala, dan ku lihat wajah-wajah itu tak mengharapkan ku jatuh. Lalu ku cari sosok Nabi, ada Abu Bakar dan Umar di sampingnya. “Ya Rasul Allah, apa yang harus ku ucapkan?” Aku memohon petunjuknya. Dan kudengar suaranya yang bening membumbung sampai di telinga “ Pujilah Allah, ikrarkan Utusan-Nya, Serulah manusia untuk shalat”. Aku berpaling dan memikirkannya. Aku memohon kepada Allah untuk membimbing ucapanku.
Kemudian, ku pandangi langit megah tak berpenyangga. Lalu di kedalaman suaraku, aku berseru :
Allah Maha Besar. Allah Maha Besar
Aku bersaksi tiada Tuhan Selain Allah
Aku bersaksi bahwa Muhammad Utusan Allah
Marilah Shalat
Marilah Mencapai Kemenangan
Allah Maha Besar. Allah Maha Besar
Tiada Tuhan Selain Allah.
Ku sudahi lantunan. Aku memandang Nabi, dan kau akan melihat saat itu Purnama Madinah itu tengah memandangku bahagia. Ku turuni menara, dan aku disongsong begitu banyak manusia yang berebut memelukku. Dan ketika Nabi berada di hadapan ku, ia berkata “Kau Bilal, telah melengkapi Mesjidku”.
Aku, Bilal, anak seorang budak, berkulit hitam, telah dipercaya menjadi muadzin pertama, oleh Dia, Muhammad, yang telah mengenyahkan begitu banyak penderitaan dari kehidupan yang ku tapaki. Engkau tidak akan pernah tahu, mengajak manusia untuk shalat adalah pekerjaan yang dihargai Nabi begitu tinggi. Aku bersyukur kepada Allah, telah mengaruniaku suara yang indah. Selanjutnya jika tiba waktu shalat, maka suaraku akan memenuhi udara-udara Madinah dan Makkah.
Hingga suatu saat,
Manusia yang paling ku cinta itu dijemput Allah dengan kematian terindahnya. Purnama Madinah tidak akan lagi hadir mengimami kami. Sang penerang telah kembali. Tahukah kau, betapa berat ini ku tanggung sendirian. Aku seperti terperosok ke sebuah sumur yang dalam. Aku menangis pedih, namun aku tahu sampai darah yang keluar dari mata ini, Nabi tak akan pernah kembali. Di pangkuan Aisyah, Nabi memanggil ‘ummatii… ummatiii’ sebelum nafas terakhirnya perlahan hilang. Aku ingat subuh itu, terkakhir nabi memohon maaf kepada para sahabatnya, mengingatkan kami untuk senantiasa mencintai kalam Ilahi. Kekasih Allah itu juga mengharapkan kami untuk senantiasa mendirikan shalat. Jika ku kenang lagi, aku semakin ingin menangis. Aku merindukannya, sungguh, betapa menyakitkan ketika senggang yang kupunya pun aku tak dapat lagi mendatanginya.
Sejak kematian nabi, aku sudah tak mampu lagi berseru, kedukaan yang amat membuat ku lemah. Pada kalimat pertama lantunan adzan, aku masih mampu menahan diri, tetapi ketika sampai pada kalimat Muhammad, aku tak sanggup melafalkannya dengan sempurna. Adzanku hanya berisi isak tangis belaka. Aku tak sanggup melafalkan seluruh namanya, ‘Muhammad’. Jangan kau salahkan aku. Aku sudah berusaha, namun, adzanku bukan lagi seruan. Aku hanya menangis di ketinggian, mengenang manusia pilihan yang menyayangiku pertama kali. Dan akhirnya para sahabat memahami kesedihan ini. Mereka tak lagi memintaku untuk berseru.
Sekarang, ingin sekali ku memanggil kalian… memanggil kalian dengan cinta. Jika kalian ingin mendengarkan panggilanku, dengarkan aku, akan ada manusia-manusia pilihan lainnya yang mengumandangkan adzan. Saat itu, anggaplah aku yang memanggil kalian. Karena, sesungguhnya aku sungguh merindui kalian yang bersegera mendirikan shalat.
Alhamdulillah kisahku telah sampai, ku sampaikan salam untuk kalian.
Wassalamu’alaikum
***
Sahabat, jika adzan bergema, kita tahu yang seharusnya kita lakukan. Ada Bilal yang memanggil. Tidakkah, kita tersanjung dipanggil Bilal. Bersegeralah menjumpai Allah, hadirkan hatimu dalam shalatmu, dan Allah akan menatapmu bahagia. Saya jadi teringat sebuah kata mutiara yang dituliskan sahabat saya pada buku kenangan ketika SD “Husnul, shalatlah sebelum kamu di shalatkan”. Sebuah kalimat yang sarat makna jika direnungkan dalam-dalam.
Ya Allah...
Bina, bentuk dan tempalah adik kami
Adik yang cukup kuat menyadari dirinya manakala dia lemah
Adik yang berani untuk menghadapi dirinya manakala dia takut
Jadikanlah adik kami seorang yang menerima kekalahannya
Sebagai sesuatu yang berharga
Dan menganggap kemenangan
Sebagai sesuatu kebutuhan Kesatriannya
Bentuklah adik kami menjadi manusia yang mengerti
Bahwa menemukan dan mengenal pribadinya
Adalah dasar segala ilmu yang benar
Ya Allah....
Jangan adik kami di bimbing diatas jalan yang enak dan lunak
Tetapi di bawah desakan, tekanan dan tantangan hidup
Bimbinglah adik kami menjadi manusia yang berhati jernih
Dengan cita-cita setinggi langit
Seorang adik yang sanggup memimpin dirinya
Sebelum berhasrat memimpin dirinya sebelum berhasrat memimpin orang lain
Seorang adik yang menjangkau hari esok
Tanpa melepaskan hari-hari kemarinnya
Dan setelah menyadari miliknya
Kami mohon juga...
Semoga adik kami dilengkapi sedikit perasaan jenaka
Agar dia dapat hidup bersungguh-sungguh
Tanpa menganggap dirinya terlampau serius
Berikanlah kepadanya kerendahan hati dan keagungan hakiki
Adik kami yang tetap berdiri diatas kaki yang dahsyat
Adik kami yang berbelas kasihan terhadap yang gagal
Dan berikanlah dia kelembutan sebagai kekuatan yang sebenarnya
Kami sebagai kakaknya memberanikan diri untuk berucap :
"Hidup kami tidaklah sia-sia"
(From : Soldier Prayer For His Son - Dauglas Mac Arthur)
Kehadiran yang menghampiri datang menyapa
Mengungkap perjalanan hari harinya
Sebuah ikatan terjalin
Membuatku terlarut didalamnya
Membuat diri seakan berperan dalam alur kisahnya
Turut merasakan apa yang dirasakannya
Hadir...,berbagi
Seakan telah kumiliki dirimu
Menjadi bagian dalam kehidupanku
Perjalananmu perjalananku, bahagiamu bahagiaku, dukamu dukaku
Ketika kau bersedih, betapa ingin kuhibur dirimu
Ketika kau menangis,
Betapa ingin ku hapus airmatamu
Ketika kau takut dan cemas,
Betapa ingin kurengkuh dirimu,
Mengembalikan ketenangan dalam jiwamu.
Ketika kau ukir senyuman....
Seakan diriku yang terbebas dari beban kau rasakan
Bila harimu mendung,
Terasa mendung pula hariku
Bila mendungmu berlalu,
Diriku serasa berada dilangit biru
Terbang menari bersama awan....
Kembali bercengkrama dengan pelangiku
Bersama ceriamu
Menyambut surya mejemput senja
Hati pun tersenyum melihat pancaran sinarmu
Indah membias siap berbaur warna
Kini aku hanya bisa terdiam
Saat guntur menyampaikan berita
Hilang lagi satu warna pelangiku ?
Satu pelangi putih polos
Yang siap membias warna menyinari persada
Serasa runtuh langit biruku
Terpaku dalam diam, tanpa mampu mempercayai
Mendung kembali menyapu
Hingga nurani kembali berbisik
Pelangiku ada yang memiliki
Duhai sang Pencipta...
Engkau yang telah menciptakan pelangi putihku
Engkau yang lebih berhak atas dirinya
Engkau yang lebih tahu yang terbaik untuknya
Engkau yang lebih dapat menjaganya
Duhai sang Pencipta...
Berikan segala yang terbaik untuk pelangi putihku
Jangan biarkan dia lara sendiri
Berikan segala damba dihatinya
Pelangi putihku
Yang tengah berjuang menggapai sucinya keagungan-Mu
Dengan segala kepolosan, keluguan nurani hatinya
Dimanapun dia berada
Kutitipkan dia hanya pada-Mu
Karena ku tahu hanya Engkau sebaik baik Pelindung.
Assalamu`alaikum Wr Wb
Lama tak bersua
Sangat terasa kerinduan dihati
Apa kabarmu disana ?
Saudara/i kakak dan adik-adikku tercinta
Saat ini ....
Hanya permohonan maaf saja......
Serta doa yang senantiasa terkirim
Untuk kebahagiaan, kesehatan
Dan kesuksesan saudara/i kakak dan adik-adikku semua,
Semoga kita senantiasa tetap saling menyayangi karena Allah
Semoga Allah masih memberi diri ini kesempatan
Untuk kembali menuliskan cerita-cerita yang sedari dulu ingin kutuliskan,
Namun belum dapat terwujudkan kembali
Mohon dibukakan pintu maafmu...
Bila selama ini tiada sempat memberi kabar
Juga...
Atas ketidak perhatianku selama ini...
Dan izinkanlah...
Aku mengucapkan rasa terimakasihku dari lubuk hati yang paling dalam
Atas segala perhatian saudar/i kakak dan adik-adikku tercinta pada diri ini
Yang tiada pernah terputus meski tiada berita balasan
Tiada yang lain dapat kupersembahkan selain doa setulus hati
Semoga Allah membalas budi dan kelapangan hatimu saudaraku semua
Semoga kita selalu berada dalam lindungan Allah SWT dimanapun kita berada.
Amin Allahuma Amin
Wassalamu`alaikum Wr Wb